Kunci Kemenangan EVOS Esports di M1 Menurut Sang Analyst

25 November 2019
post image

M1 World Championship 2019 (11-17 November 2019) telah usai dan menobatkan EVOS Legends sebagai juara dengan torehan fantastis. Sebelumnya, Indonesia sukses membangun tren positif dengan menghadirkan All-Indonesian Final di gelaran MSC 2019 (19-23 Juni 2019) dengan ONIC sebagai sang juara. 

Lantas, sejarah kembali terulang dengan kehadiran All-Indonesian Finals antara RRQ melawan EVOS Legends di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia. Gelaran akbar Mobile Legends: Bang Bang yang bertajuk M1 World Championship merupakan kali pertama sekaligus tonggak awal gelaran dunia game besutan Moonton tersebut. Sebanyak 16 tim dari 14 negara bertarung memperebutkan total hadiah $250,000 di ajang ini.

Meskipun sudah usai, gelaran M1 masih mengundang banyak momen spesial, apalagi hasil gemilang dari EVOS Esports (Legends) ditunjukkan sejak MPL ID Regular Season 4 hingga Grand Final M1 World di Malaysia. Pada Regular Season MPL ID S4, EVOS menorehkan 11 kemenangan dan 3 kekalahan. Di Playoffs MPL, Oura dan kawan-kawan pun tetap tampil buas di hadapan ribuan mata yang memadati Tennis Indoor Senayan dan sukses mengemas kemenangan melawan RRQ dengan skor 3-1 di partai final. 

Di M1 World Championship, EVOS juga kembali mengalahkan RRQ di partai final namun diwarnai dengan comeback manis yang sukses menghantarkan armada harimau putih mendapatkan dua gelar: tim terbaik MLBB di Indonesia dan juga dunia. Bagaimana tidak, meski EVOS sempat tertinggal 3-1, RRQ yang tinggal meraih 1 kemenangan tersisa harus menelan pil pahit dengan kekalahan 3x berturut-turut. 

Apa sebenarnya rahasianya? Bagaimana tim tersebut menjaga ritme pertandingan tetap rapih dan agresif? Cara dan evaluasi apa saja yang dihadirkan manajemen tim untuk membawa EVOS berada di puncak kejayaan? Ade Setiawan Pamungkas selaku Data Analyst Mobile Legends dari EVOS Esports turut memberikan pendapatnya. “Sebelum menghadapi M1, pastinya kita menyiapkan beberapa strategi dan latihan yang lebih optimal lagi dari sebelumnya. Karena lawan yang kita hadapi di M1 saat itu adalah lawan dari negara-negara yang belum kita ketahui strategi dan gameplay sebab ada beberapa dari mereka yang minim video untuk diulas bersama.”

Memang ada nama-nama baru di tengah ramainya panggung M1, sebut saja wakil Jepang 10seconds Gaming Plus yang sukses memberikan perlawanan berarti. Serta wakil Filipina yang tampil kurang maksimal meski memiliki ekosistem esports Mobile Legends yang maju.
Menyinggung tentang tim dan lawan di M1, apakah EVOS Legends mengantisipasi suatu tim yang dianggap sulit dikalahkan? “Kalau ditanya lawan yang paling sulit itu siapa pastinya adalah diri kita sendiri, hahaha. Menurut kita sih, semua yang berhasil lolos ke kualifikasi M1 adalah tim-tim yang kuat. 

Mungkin bukan sulit ya, lebih ke arah unik dan bisa kita lihat dari gameplay tim, contoh 10s Gaming Plus dari Jepang. Ditambah, mereka adalah tim yang baru terlihat dan mampu mengalahkan beberapa tim favorit di M1,” pungkas Ade.

Pertandingan grand final pun menyajikan comeback yang hampir mustahil terjadi skor 4-3 untuk kemenangan Donkey dan kawan-kawan setelah tertinggal 1-3. Lantas, apa strategi yang diterapkan EVOS hingga mampu menyalip ketertinggalan skor melawan RRQ? “Kunci comeback EVOS adalah dari Harith sih, hahaha. Tapi, di balik itu semua peran yang paling penting adalah semangat mereka, percaya sama pelatih dan rekan setim bahwa kerjasama tim dan komunikasi yang baik bisa membalikkan keadaan.”
Rekt juga bilang saat skor di angka 1-3, “enjoy aja santuy, main aja gamenya kaya bisa nge-rank, masih ada kesempatan”. Lalu kita dari manajemen juga mengingatkan bahwa kita semua percaya sama mereka. Serta dukungan dari para fans saat itu seakan menjadi mental boost buat tim EVOS.”

Harith muncul di awal mula comeback EVOS yaitu di game ke-5. Wann juga menyumbang damage dealt terbesar dengan Harith, dan sejak itu RRQ terus melakukan ban terhadap Harith dan terpaku pada pick hero Wann dan Rekt dibandingkan fokus kepada permainan. 
Menyinggung Rekt, sang kapten EVOS Esports. Ade turut memberikan pujian atas andil penting dari Gustian yang dapat mengatur emosi dan tempo seluruh tim EVOS. “Banyak ya perannya, yang perlu digarisbawahi itu sang kapten, Rekt.

Sosok yang sangat profesional dan bisa jadi penenang sekaligus pengingat jika tim mengalami kesalahan dalam strategi maupun gameplay.” Selain menjadi ujung tombak, Rekt juga dilimpahkan tugas lain yaitu mengatur ritme dan jalannya strategi. Tentu tidak mudah, namun lagi-lagi Rekt membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil selama game belum usai.
“Untuk antisipasi pemain sepertinya ga ada. Semua pemain sama, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita juga respect sama mereka semua jadinya bisa main lepas dan ga ada beban tanpa harus mikir pemain mana saja yang perlu diantisipasi,” tutup Ade di akhir sesi wawancara.

Dominasi dari tim-tim Indonesia kali ini membuat Moonton menempatkan Indonesia sebagai tuan rumah gelaran M2 tahun depan. Apakah EVOS dapat mempertahankan dua gelar sekaligus di MPL ID S5 dan M2? Mampukah dominasi tim Asia Tenggara dipatahkan oleh regional lain layaknya kejutan 10s Gaming Plus? Atau, giliran nama-nama baru yang akan bersinar di gelaran M2 2020 mendatang? 

 

Untuk informasi lebih lanjut, harap kunjungi https://id-mpl.com/